22 Maret 2010

Kalau ke Jakarta, Barack Obama Ingin Naik Becak


Barack Obama and Putra Nababan On RCTI


Sore Pukul 17.30 WIB tadi, saya mengikuti wawancara ekslusif antara Putra Nababan dari RCTI dengan Presiden Amerika Serikat Barack Obama di Washington . Saya salut pada RCTI khususnya pada Bang Putra Nababan. Karena menurut saya, dialah satu satunya jurnalis Indonesia yang pertama kali dapat bertemu langsung dan sekaligus melakukan wawancara ekslusif dengan Presiden Barack Obama.

Nah, benang merah dari wawancara di RCTI tersebut adalah Presiden Amerika Serikat sangat ingin berkunjung ke Indonesia. Ada pun tempat yang ingin dikunjungi Obama selama di Jakarta adalah, rumahnya yang terletak di kawasan Menteng Dalam Jakarta Pusat, SD Asisi, dan SD Besuki 01 Menteng.

Dalam wawancara berbahasa Inggris tersebut, Obama mengatakan dia masih bisa sedikit berbahasa Indonesia. Benar saja, ketika Putra Nababan mengajukan beberapa pertanyaan dalam Bahasa Indonesia, Barak Obama menjawabnya pula dengan Bahasa Indonesia yang bagus.

Dijelaskan oleh Obama, pada bulan Juni nanti, bertepatan denga liburan sekolah kedua putrinya, Obama akan mengajak anak dan istrinya ke Indonesia.

“Anak-anak dan istri saya harus tahu dan melihat secara langsung betapa hebatnya Indonesia. Indonesia hebat karena memiliki budaya yang beragam tetapi mereka bisa saling menghargai dan menghormati satu sama lain.”

Barak Obama mengakui bahwa cara pandang bangsa Indonesia pada umumnya yang selalu berpikir tenang dan tidak emosional dalam menghadapi suatu persoalan telah menjadi bagian dari pribadinya setelah dewasa kini.

“Pengalaman berharga saya dengan masyarakat Indonesia di Jakarta pada waktu saya masih kecil telah menjadikan saya sebagai pribadi yang tenang. Ya, orang Indonesia ramah dan sangat tenang dalam menghadapi kehidupannya.”

“Saya ingin sekali melihat rumah lama saya di Menteng Dalam, SD Asisi, dan SD Besuki 01 Menteng,” kata Obama saat diwawancarai Putra Nababan.

Seingat Obama, pada saat dia masih tinggal di Kawasan Menteng Dalam, semua kehidupan di sekelilingnya mengalir begitu tenang, damai dan tentram. Tak ada hiruk pikuk atau kemacetan kendaraan yang lewat di jalan raya.

“Kendaraan yang mendominiasi jalan kota Jakata pada tahun 1967 adalah becak,” kenang Obama.

Dulu di Jakarta Obama sering naik becak bersama mendiang Ibunya Ann Dunham dan ayah tirinya Lolo Soetoro.

Rumah Obama terletak persis di belakang SD Asisi yaitu di Jalan H Ramli. Di rumah tersebut tinggal pula adik tirinya, Maya Soetoro.

Obama tetaplah manusia biasa yang tak mungkin menghapus memori masa kecilnya yang indah bersama teman bermainnya, teman sekolahnya, guru-gurunya, tetangganya, teman main bolanya, teman main sepedanya, dan tentu saja kerabat ayah tirinya yaitu keluarga besar Soetoro, trah Martodihardjo Jayeng Prawiran yang berasal dari Jogja.

Obama kecil selama di Jakarta dulu ternyata adalah penggemar makanan pinggir jalan. Adapun makanan kesukaannya adalah sate, bakso, dan nasi goreng.

“Saya ingat sekali sewaktu masih di Jakarta. Kalau malam hari di depan rumah saya pasti lewat tukang sate ayam yang sedang menjajakan dagangannya dengan berteriak, SATE! Hm saya suka sate. Saya suka makanan pinggir jalan.”

“Itu malam hari. Tapi kalau siang hari yang terdengar adalah suara mangkok yang dipukul sendok. Itu tandanya tukang bakso lewat,” tambahnya.

Nah, begitu indah dan membekasnya kenangan Obama terhadap Indonesia.

Pada kesempatan tersebut Obama juga menyampaikan salam dan sekaligus permintaan maafnya terhadap salah seorang temannya di Menteng Dalam.

Sangat menyentuh. Sungguh, Obama masih tetap seperti dulu sederhana dan bersahaja.

Dia bercerita, pada saat berboncengan naik sepeda di depan rumahnya, temannya itu terjatuh. Kecelakaan kecil itu bisa terjadi karena keduanya bercanda dengan saling menggelitik. Akibatnya, tangan teman Obama tersebut patah. Namun Obama lega karena kini dia mendapat kabar bahwa teman bermainnya tersebut sehat-sehat saja.

“Saya lega, karena teman bermain saya itu sudah sehat kembali. Putra, Sampaikan salam saya pada teman bermain saya itu. Sampaikan maaf atas keusilan saya pada saat saya masih kecil dulu,” kata Barack Obama bersungguh-sungguh.

Begitulah Obama, walaupun dia sudah menjadi orang nomor satu dan orang penting di Amerika Serikat, dia tetap tak pernah melupakan siapa pun yang pernah mengisi hari-hari indahnya di masa lalu. Terutama teman-teman sepermainannya di Jakarta.

Selain Jakarta, Obama mengungkapkan ingin mengajak anak istrinya ke Yogyakarta untuk melihat candi Borrobudhur, kemudian ke Bali.

Yogyakarta memang mempunyai ikatan darah yang kuat dengan adik tirinya. Karena separuh dalam darah adik tirinya mengalir darah Jawa dari trah Martodihardjo Jayeng Prawiran yang berasal dari Jogja. Nama adik tirinya adalah Rahayu Nurmaida Soetoro atau yang akrab dipanggil Ayu Soetoro. Obama sangat menyayangi adik satu-satunya tersebut.

Aku sendiri tak heran mengapa Bang Putra bisa melakukan wawancara tersebut. Itu semua tak terlepas dari sosok gigih Bang Putra. Dia adalah orang yang selalu berpikiran kritis, berwawasan luas, pintar, mudah bergaul, pekerja keras dan selalu melakukan apa pun dengan segenap jiwanya. Hingga tak heranlah jika kariernya cepat melejit.

Jika bekerja Bang Putra memang total. Hingga pada akhirnya karier Bang Putra cepat sekali melejit. Karier jurnalisnya berawal dari bawah. Tahun 1992, setelah lulus dari Midland Lutheran College Freemont, Nebraska Amerika jurusan Jurnalistik Bang Putra memilih menjadi wartawan di harian berbahasa Inggris, Jakarta Post. Kemudian Bang Putra pindah ke Forum Keadilan, dan yang paling lama dia bekerja di Koran Rakyat Merdeka.

Dari koran yang telah mendidiknya untuk menjadi jurnalis handal itu, Putra Nababan hijrah ke media televisi sebagai pembaca berita di Metro TV. Namun tahun 2004 Putra bergabung dengan RCTI dan tugas pertamanya sebagai Executive Producer Nuansa Pagi

Berkat kerja keras dan loyalitasnya yang tinggi di RCTI, maka pria beranak dua ini dipercaya sebagai Wakil Pemimpin Redaksi RCTI. Sebuah posisi yang sangat tinggi di dalam jenjang dunia jurnalis.

Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Begitu kata pepatah. Pria kelahiran 30 Juli 1974 ini adalah anak dari seorang mantan wartawan yang sekarang menjadi politisi yang disegani di tanah air. (Puri Areta)

0 komentar:

Poskan Komentar