29 Mei 2010

Inspirasi Cinta Abadi BJ Habibie dan Ainun Habibie

Ketika bumi semakin tua. Ketika kesetiaan cinta sejati mulai diragukan orang, ketika kemurnian cinta seringkali dipermainkan orang, ternyata masih ada juga pasangan suami-istri yang telah dengan sungguh-sungguh memelihara kemurnian cintanya. Maut pun seolah tak dapat menghentikan kenangan cinta abadi yang telah tergores indah di hati. Walaupun raga telah tepisahkan oleh kematian, namun cinta sejati tetap tersimpan abadi di relung hati.

Kisah cinta almarhumah Hasri Ainun Habibie dan mantan Presiden Republik Indonesia B J Habibie memberikan pelajaran serta inspirasi bagi semua pasangan suami-istri di penjuru tanah air, betapa indahnya memelihara kesetiaan cinta sampai akhir hayat.

Bila mengenang almarhumah Hasri Ainun Habibie, BJ Habibie tak kuasa menahan kesedihannya. Bola mata Habibie yang biasanya selalu berbinar-binar bila sedang berbicara tentang teknologi dan pandangan politiknya…saat itu berubah redup…hingga tetes air mata membasahi pipi.


Siapa pun yang melihatnya ikut hanyut dalam duka. Siapa pun tak menyangka, seorang pria yang biasanya selalu tegar dan ceria itu ternyata menyimpan sisi romantisme yang patut menjadi teladan. Sungguh sempurna pribadi BJ Habibie, beliau memiliki otak yang cerdas cemerlang, karier dan kedudukan yang terhormat dalam masyarakat, dan beliau ternyata juga memiliki cinta sejati untuk sang istri.

Betapa bahagia dan bangganya almarhumah Hasri Ainun Habibie memiliki suami yang mencintai almarhumah sampai di keabadian.

Tentu banyak wanita yang ingin nasibnya seberuntung almarhumah Hasri Ainun Habibie, menjadi wanita utama di hati suaminya. Sesuatu yang sulit didapatkan pada jaman ini.

Selamat jalan Bunda, terimakasih atas perhatian Bunda pada semua orang yang memerlukan bantuanmu. Hingga akhir hayat, Ibunda Ainun Habibie telah mencurahkan perhatiannya untuk mengurus dua lembaga sosial; pertama adalah Yayasan Orbit yang memberikan beasiswa dari SD sampai S1 dan kedua, perhimpunan bank mata. Ini adalah bukti cinta Ibunda Ainun Habibie pada masyarakat Indonesia.

Almarhum menghembuskan nafas terakhirnya pada hari Sabtu 22 Mei 2010 setelah menjalani operasi kanker rahim di salah satu rumah sakit besar di Munich, Jerman.

Almarhumah Ainun dimakamkam di Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata, Jakarta Selatan, pada hari Selasa 25 Mei 2010. Pada masa hidupnya ia pernah menerima penghargaan bintang jasa Republik Indonesia kelas 2 Bintang Mahaputra Adi Pradana.

Hasri Ainun Habibie dilahirkan di kota Semarang, 11 Agustus 1937. Putri keempat dari delapan bersaudara keluarga H Mohammad Besari ini dikenal ramah kepada siapa pun.

Ainun dan Habibie menikah pada tanggal 12 Mei 1962. Kedua pasangan yang saling mencintai ini
berbulan madu di beberapa tempat, yaitu: Kaliurang-Yogyakarta, kemudian ke Bali, dan diakhiri di Ujung Pandang yang merupakan kampung halaman Habibie.

Setelah menikah, Ainun harus ikut Habibie yang menyelesaikan pendidikan doktoralnya di Jerman. Kehidupan awal di sana dilalui dengan keadaan ekonomi yang pas-pasan karena pendapatan beasiswa Habibie yang teramat kecil.

Namun walaupun keadaan yang serba pas-pasan, Ainun tak pernah mengeluh. Dengan sabar dan penuh cinta kasih, Ainun tetap setia mendampingi Habibie.Dalam suka dan duka. Agar dapat menghemat, Ibu Ainun pun sempat menjahit sendiri pakaian bayi untuk buah hati yang sedang dikandungnya.

Dari pernikahan ini, pasangan sejati tersebut memiliki dua orang putra yang masing-masing bernama llham Akbar dan Thareq Kemal serta enam orang cucu.
(Puri Areta/photo: banjarmasinpost.co.id)